Senin, 22 Desember 2014

Ini Bukan Hari Ayah Ya?

Hujan masih membasahi sore ini. Awet kembali mengunjungi bumi meskipun tahu rasanya jatuh berulang kali. Sementara seorang lelaki menikmati suasana yang ia ciptakan. Dingin namun membuat mood stabil aneh berbeda. Gue.

Dimana ya? Gue udah di depannya ini

Isi sebuah sms yang ku layangkan kepada temanku. Sambil menunggu reply aku kembali memandang bagaimana hujam memburamkan pandangan akan dunia ini. Sibuk dengan pikiran sendiri, sebuah suara yang ku kenal memanggilku masuk ke dalam kedai kopi yang berada di belakangku.
“Man!” panggil Arya yang telah membaca pesanku.
Ku balikkan badanku dan ku langkahkan kakiku memasuki kedai sementara tanganku berusaha meletakkan tablet ke dalam tas.



-- di dalam kedai --

“saya pesan millenia snowball satu” pesanku kepada mbak waitress yang sedang kerepotan menuliskan pesanan kami. Arya, Ivan, Dani, Alifah memesan expresso dengan citra rasa indonesia yang menjadi menu pada halaman pertama. Sementara gue yang baru aja divonis nggak bolah minum kopi ini harus mencari menu yang sekiranya tidak terlalu ke-kopi-an meskipun ini kedai kopi. Aaaah merusak suasana dengan membuatku memesan sesuatu yang jelas jauh dari kopi tersebut.

“Pake rum nggak apa apa mas?” tanya mbaknya kembali kepadaku. Sementara Ivan bertanya agar mbak waitress kembali mengulang pertanyaannya. Aku hanya terkejut dengan pesananku barusan. Aku buka kembali buku menu dan ternyata memang tertulis ‘rum’ di keterangannya. Oh maaan... Ada lagi masalahnya.
“Nggak jadi mbak, diganti dengan frappucino aja deh” balasku padanya.
“Pake choco chip ya” tambahku.

“aah maan.. Seandainya tadi mbaknya nggak bilang rum kan gue tetep pesen snowball, cih” ujarku menggerutu.
Sementara anak-anak lain hanya bertanya yang setuju dengan gerutuanku itu karena memang kita semua penasaran dengan menu yang terlihat fantastis tersebut.
Tawa memenuhi zona kami.

Usai memesan, satu persatu anak mulai meninggalkan sofa untuk menunaikan shalat maghrib. Sementara aku dan Dani menunggu di tempat sambil mengobrol asik seperti biasanya. Kami memang akrab.
“eh eh, cerita dong soal teknik. Aku cuma dapet isunya doang” tanyanya padaku. Dengan singkat dan padat aku menjelaskan padanya tentang pertanyaannya. Tentang kondisi kampus yang saat ini sedang tidak jelas. Dimana logika bukan lagi hasil kognitif dari otak. Terus darimana? Sepertinya dari dengkul.
Hanya untuk beberapa oknum.
Tepat setelah aku menjelaskan anak-anak kembali dan saat itu juga pesanan kami datang. Sambil menikmati pesanan kami masing-masing, obrolan asikpun kembali terlayang menghabiskan waktu menunggu teman-teman yang lain dan dilanjutkan dengan makan malam di D’Co*t.



-- intermezzo yang udah telat. Formatnya Ask and Question--
A: Sebentar. Sebenarnya ini acara apa sih?
Q: Ini acara kumpul kelompok KKN. Kebetulan Arya mendapatkan voucher Excelso (yah kesebut) sebesar 100rb jadi kita gunakan sebagai momen untuk kumpul bareng lagi.

A: Berarti ini mau cerita tentang kumpul KKN kalian?
Q: Sebenarnya tujuannya bukan sih. Ada hal lain yang mau aku tulis nanti.

A: Jadi belum pembahasan? Bakal berapa halaman ini?
Q: Ga panjang juga kok. Ini cerita latar belakang dulu. Kan biasanya di laporan itu kan latar belakang selalu lebih panjang dari pembahasan, apalagi kesimpulan. (Hanya di teknik fisika mungkin)

A: Emang mau cerita tentang apa sih?
Q: Yuk makanya kita lanjut lagi ceritanya.

A: Ahh lama nih..
Q: Dipercepat deh settingnya.



-- Kembali ke cerita. Kondisi sudah keluar dari restauran. Perut kenyang (bohong banget).--
“Pada langsung pulang nih?” Tanya Dani pada semuanya.
“Aku, Ivan, Ilham, sama Arman mau ke Amazon dulu main hokey” jawab arya.
That’s right. Kita cowok-cowok gahoel mah males banget masuk mall. Jadi sekalinya masuk ke dalam mall seperti ini mending sekalian habisin aja apa yang mau dilakukan dan akhirnya kita memutuskan untuk ke Amazon. Bukan Amazon yang hutan di Brazil, Amazon yang merupakan tempat bermain. Kami mau mengadakan turnamen Hokey berempat. Tidak membuang waktu karena memang sudah malam, kami langsung menuju ke lantai atas, memasuki Amazon (wiiih..), mendatangi mbak-mbak penjual koin (nggak mau modus kok), dan langsung ke meja hokey.
Ternyata ada keluarga yang sedang bermain, lantas kami main lempar bola basket dulu sebentar. Setelah memastikan meja kosong, kami langsung beranjak kesana.

Pertandingan terbagi menjadi 3.
Arya vs Ivan.
Aku vs Ilham.
Juara dari masing-masing pertandingan akan berhadapan di pertandingan selanjutnya.
Widiiih... Sok iye banget dah padahal cuma main hokey meja buat anak-anak begini. Hahaha.
Pertandingan pertama berlangsung sepihak dengan kemenangan 3-0 untuk Arya dan selanjutnya 6-1 untuk gue tentunya. Dari sini belum kerasa apa-apa. Cuma perasaan bangga karena udah biasa main ini sejak kecil bersama Papa. Dulu setiap kali Papa mengajak makan di mall pasti kami berdua selalu menyempatkan diri untuk bermain hokey meja.

Pertandingan kedua berjalan dengan sengit.
Arya jago sekali memainkan pantulan.
Menit pertama okelah
Menit selanjutnya ya boleh juga.
Menit pertengahan.... Aduh duh ada yang beda. Bener dah.
Punggungku.. Pungunggu pegel euy. Encok. Kalah ya kalah. Pertandingan berakhir dengan skor 5-3 untuk Arya. Untuk kasus punggung ini bukan sesuatu yang dibuat-buat sebagai alasan tapinya ya. Ini benar dan ini yang membuatku berfikir keras akan sebuah kenangan lama.



--akhirnyaa.. Pembahasan juga--
Kita sering sekali ketika kecil mungkin mengajak ayah kita untuk bermain bersama.
Permainan hokey hari ini membuatku merenung.
“Papa dulu nahan sakit punggung nggak ya?” tanyaku dalam hati pada diriku.
Permainan yang 2 game belum selesai saja ini sudah mampu membuat punggungku (dan temanku) pegel coy. Secara mejanya rendah karena memang didesign untuk anak kecil. Untuk kami yang masih umur belum punya anak aja sudah kerasa berat, apalagi untuk ayah kita. Belum lagi umurnya.
“Papa pasti nahan sakitnya, dulu pernah sampai 5 game kayaknya” simpulku dalam hati juga.
Memang ya orang tua itu selalu menjadi yang terhebat. Mampu memaksakan dirinya hanya untuk membuat kita senang ataupun sehat. Setelah ini rasanya aku pingin sekedar mengirimkan pesan “paa..” kepada ayahku melalui mesenger setelah semakin mengetahui seberapa besar effortnya untuk membuatku tersenyum.
Paa.. Anakmu ini akan melakukan hal yang sama untuk anakku nanti. Tidak hanya untuk mereka, tapi juga untuk dunia. Dunia yang telah kau tunjukkan padaku selama ini bahwa selalu ada kebahagian setiap detiknya.

:-)



--sek sek..--
Q: Ini brarti isinya tentang ayah ya?
A: Iya lah.
Q: Kok dipublish sekarang? Sekarang kan hari Ibu, bukan hari Ayah.
A: Ehhh.. Seriusan?
Q: *lempar tablet



------------------------------------------------------------
Kamar No.3 di balik dinginnya hujan malam hari
Yogyakarta.
------------------------------------------------------------

Minggu, 12 Oktober 2014

Aku Tidak Menginginkan Kasih Tanpa Sayang

Perempatan itu bukan lah perempatan terhijau di Bekasi. Meskipun tidak benar-benar menyerupai perempatan, tapi spot tersebut  merupakan salah satu yang terpadat di Bekasi. Bahkan menuju perempatan paling padat di kota itu. Panas, debu, padat oleh kendaaraan yang menunggu warna merah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau membuat perempatan tersebut menjadi lokasi yang dihindari kebanyakan orang. Namun disitulah tempat laki-laki tersebut mencari nafkah. Pria sudah lagi tidak tergolong muda, terlihat dari rambutnya yang sudah penuh warna putih dan kulit wajahnya tidak lagi kencang. Meski begitu jiwanya masih begitu muda, terlihat dari aura produktif yang nampak pada umurnya yang bukan lagi umur produktif. Pria berjiwa tersebut merupakan penjual koran perempatan. Bersama dengan anak cucunya, mereka menghabiskan tumpukan kertas abu-abu yang dibawa. Entah berapa lama mereka mewarnai perempatan tersebut, terkadang aku masih mendapati mereka berjualan pada malam hari.

Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita menjumpai mereka yang masuk umur tidak produktif namun masih dengan tegar mencari nafkah untuk sesuap nasi bagi keluarga mereka. Namun lelaki ini membuatku selalu merasa malu dengan hidupku saat itu, begitu pula anak cucunya. Setiap kali satu korannya terbeli, tidak pernah ia mengucapkan puji syukur kepada tuhannya. “Alhamdulillah” ucapan ringan namun berbobot yang ia ucapkan itu selalu membuatku kagum. Begitu pula keluargaku.

Bahkan suatu hari, sepulang aku sekolah, di sore yang panas itu aku kembali mendapati mereka berjualan seperti biasanya.
“pak, korannya (merek dirahasiakan) ada pak?” tanyaku dengan berupaya membeli satu dagangannya. Aku menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru dan mengatakan “kembaliannya ambil aja pak” padanya. Namun aku tidak menyangka ternyata ia menolaknya dan tetap mencarikan kembalian dan memberikannya kembali padaku. Dan seperti biasa ia menanggapi setiap orang dengan tersenyum. Baik pembeli maupun orang yang ia tawarkan walaupun menolaknya.
Lampu lalu lintas sudah berganti hijau dan motor dibelakangku sudah membunyikan klakson yang menandakan ia memintaku minggir. Lantas aku pun menaikkan gas motorku dan meninggalkan perempatan tersebut dengan pertanyaan pertanyaan di kepalaku.

Esoknya aku kembali ke perempatan tersebut. Hari ini merupakan hari libur dan aku masih mendapati mereka rajin dan ulet dalam mencari nafkah. Kali ini aku menarget cucunya. Hal yang sama aku ulang kembali ke cucunya dan ia pun meresponnya dengan hal yang sama. Sungguh heran aku saat itu. Biasanya kalau ada loper koran yang aku perlakukan seperti itu pasti direspon dengan kata terima kasih dan ia menerima selembar biru tersebut.
Aku pun bertanya pada anak kecil tersebut kenapa ia dan keluarganya menolak pemberianku dan aku terkejut dengan jawabannya.
“karena yang kami jual koran kak, untuk secercah uang untuk membeli makan. Bukan rasa kasihan dari orang lain. Alhamdulillah kami selalu cukup untuk memenuhi hidup sehari hanya dengan seperti ini.” jawabnya sambil tersenyum tulus.
“Kakek selalu mengajarkan kami untuk hidup jujur dan penuh kasih sayang, bukan tanpa sayang dan hanya tersisa kasih saja. Nanti hanya kasihan yang didapat.” tambahnya.
Membuatku merasa malu dengan diriku. Mereka telah membuang rasa opportunis berlebihan dari diri mereka. Tidak membiarkan sedikitpun diri mereka terjual oleh rasa kasihan atau apa yang bukan hasil usaha mereka.
Terharu dengan ucapan anak kecil tersebut aku pun membeli dagangan mereka sejumlah uang kertas tersebut dan membawanya ke sekolah (siapapun yang mau ambil ya silahkan ambil).

Jika dibandingkan dengan honor-honor yang pernah aku dapatkan selama sekolah ini rasanya nilainya total berbeda. Honor yang didapat bukan murni hasil kemampuanku. Hanya sekedar upah atas waktu yang hilang tanpa nilai untuk kemampuanku. Bahkan hingga saat ini aku melanjutkan kuliah di perguruan tinggi tidak sedikit aku menjumpai kondisi dimana honor-honor didapat bukan karena hasil kemampuan tapi melainkan sebagai pengganti waktu yang hilang ataupun sekedar kasihan. Kita sebut saja sebagai contoh adalah pekan tiga huruf. Dimana tidak sedikit mahasiswa yang menjual kreatifitas mereka dengan melebih-lebihkan anggaran diatas yang seharusnya hanya karena melihat ada kesempatan. Atau saat dimana diri ini ditawar dengan keuntungan yang belum jelas asalnya. Setiap kali kondisi itu kembali menghampiri waktu-waktuku, aku selalu teringat dengan mereka. Perasaan bangga atas dinilainya usaha diri ini secara murni. 

Setiap kali kembali ke rumah, aku selalu menyempatkan diri mengendarai motor untuk sekedar melewati perempatan tersebut. Berharap kembali menemukan sosok mereka yang saat ini hampir tidak pernah ku temui entah apakah mereka memang pindah spot atau Allah memberikan mereka hasil yang indah atas hati mereka yang begitu besar.

Dari mereka lah aku belajar untuk mendapatkan penghargaan atas apa yang sudah aku lakukan, bukan merupakan hibah hanya dari hasil sekedar hadir dan rasa kasihan. Tidak membiarkan materi menggerogoti pilar harga diri untuk kebaikan ini rapuh. Sebab sifat opportunis berlebihan itu lah yang justru membuat manusia kehilangan nilainya sebagai makhluk berakal.

Sama halnya seperti kasih sayang Allah. KasihNya mungkin memang untuk seluruh manusia. Namun sayangNya itu lah yang terdapat ridho didalamnya, hanya milik mereka yang beriman. 

Semoga saat ini mereka sekeluarga tetap hidup dalam hati yang bernilai.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Ujian Masuk Perguruan Tinggi (Part 2)

Hari-hari pun terlewati. Simak UI pun lewat. Kembali ke rutinitas sehari-hari dimana hanya ada laptop, buku pelajaran, soal ujian tahun lalu untuk bahan belajar, dan bumbu wajib kehidupanku di masa SMA yaitu sahabat.

Siang itu kami sedang menikmati waktu istirhat di koridor depan kelas seperti biasanya. Kegiatan as usual yang tidak pernah membosankan karena selalu ada mereka yang menemani.
“eh hasil utul sudah keluar loh”ucap Helda yang merupakan salah satu anak CES1 yang paling riang dan lively dalam pergaulan. Baru saja muncul sudah membawa kabar yang membuat serentak seluruh personil CES1 khawatir. Meskipun begitu tidak ada satu pun yang langsung meraih gadget untuk memastikan hasil sebab Helda merupakan CES1 yang terkenal dengan hobinya mengerjai kawannya bahkan membuah celah untuk dibalas.
"kan masih besok pengumumannya" tukas Topik singkat. Pria berbadan kurus dengan tingga badan tidak tinggi ini masih menyibukkan jarinya pada laptopku, membiarkan jarinya tetap menari dengan kecepatan yang tinggi sementara matanya terpaku pada layar seakan menonton pertandingan Indonesia melawan Manchester United.
"sumpeh dah. Linknya bocor duluan. Ini dapet dari senior. Nggak pake link dari webnya." jelas Helda.

Tiga... Dua... Hitungku dalam hati sambil melihat teman-teman yang sedang duduk berubah ekspresi dan Serentak mereka memisahkan pantat mereka dari lantai saat hitunganku sampai pada nilai terakhir, satu..!

Bunyi kelas pun menjadi gaduh. Dari satu mulut menyebar ke seluruh pemilik kursi di IPA 1. Satu kaki mengundang kaki lainnya untuk membangkitkan badannya dari poposi malas. 
Komputer kelas yang semula sedang digunakan untuk bermain ragnarok oleh satu teman hanya dengan kombinasi 2 tombol yaitu alt dan f4 langsung berganti menuju web browser. Menuju link ajaib yang diucapkan helda.

"elu nggak ngecek cum?" tanya Topik padaku yang tetap duduk anteng disebelahnya. Sementara ia sendiri tidak ikut meramaikan momen ini karena diam-diam ia pun mengakses alamat ajaib tersebut dari laptopku.
"udah pasti ga bakal keterima" ujarku menanggapi.
"coba dulu cumii" ikut nanda yang kembali ke luar kelas. Perempuan berkacamata dan berjibab ini merupakan temanku pertamaku di bekasi.

Kita flashback dulu sebentar ke masa dimana aku baru saja pindah ke bekasi mengikuti papa yang dipdahkan tugas lagi. Ini bukan pertama kalinya papa dipindahkan tugas. Bukan berarti papa melakukan kesalahan di kantor sebelumnya. Melainkan karena papa adalah karyawan berskill yang dipercaya untuk mengisi posisi strategis di tempat yang memerlukan kehadirannya. Sebelum ini bahkan papa mendapatkan tawaran posisi pimpinan di cabang Bojonegoro tapi beliau lebih memikirkan pendidikan kami dan memilih untuk dipindahkan ke jabodetabek. Oleh karena itu kami selaku fine dengan pilihan papa. Setidaknya banyak teman dan pengalaman yang aku dapatkan dibandingkan teman seumuranku.
Kali ini papa dipindahkan ke jakarta, namun kamj tinggal di bekasi karena ada saudara disini dan berarti aku pun pindah sekolah.
Nanda adalah perempuan pertama sekaligus orang pertama yang menyapaku dan mengajak kenalan ketika baru diperkenalkan guru kepada teman baruku. Sayangnya saat itu aku sedang asik menikmati hembusan angin sepoi-sepoi dari jendela kelas yang menghadap langsung ke pohon luar. Membuatku tidak menyadari kehadirannya. Aku baru menyadari kehadirannya saat ia berkata "gue dicuekin coba" kepada teman-teman yang lain. Dan kemudian datang satu lagi kepadaku, kali ini laki-laki, Ecak panggilannya. "hai, gue reza. Panggil aja Ecak." sapanya ramah.
Belum sempat aku membalas salamnya ia sudah kembali berbicara.
"Namamu siapa?"
"Arman." jawabku dengan nama panggilanku.
Entah aku yang sedang kelaparan atau bagaimana. Aku yakin melafalkan kata A-R-M-A-N dengan jelas. Aku yakin ini bukan salahku, melainkan kupingnya.
"ha? Albert? Woi namanya Albert." teriaknya kepada seisi kelas dan akupun menyesal telah berkenalan dengannya sebagak perkenalan pertamaku. Mungkin inilah yang dimaksud dengan hukum karma.

Kembali lagi ke masa sekarang.
Nanda yang merupakan teman pertamaku meskipun secara tidak official telah menjadi temanku yang official. Eh maksudku telah menjadi temanku yang paling lama berteman denganku. Dari SD ketika baru pindah, SMP, dan sekarang SMA kita satu nama lembaga formal. Bahkan saat ini nanda diterima di UGM, di fakultas farmasi.
"emg kenapa deh?" tanyanya padaku.
"males nan, nanti ketemu kamu lagi. Masa iya kita bareng terus sih." candaku sambil menjulurkan lidah layaknya anak kecil.
"keren dong, dari SD ampe kuliah kita bareng" timpalnya meladeni.
Kami terbiasa bercanda seperti ini.
Sementara itu Topik hanya membalas singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"nomor peserta" ujarnya.
"ga bakalan diterima. Serius dah." ucapku ngotot.
"emg kenapa sih cum?" tanya nanda dengan ekspresi heran.

Aku hanya menghela nafas. Menyiapkan diriku untuk menjelaskan semuanya.
"bagini. Kemarin itu LJK gue kotor karena gue ga sengaja ngejatuhin lap tinta di LJK” jelasku sambil tersenyum tak bersalah.
Ini bukan pertama kalinya mereka mendengan sebuah cerita bodoh tentang kehidupanku. Mungkin sudah tidak terhitung berapa kali aku bercerita tentang kebodohan-kebodohan kelakuanku kepada mereka hingga reaksi mereka hanya sebatas ekspresi muka. Suasana pun menjadi hening. Semua hanya terpaku melihatku.
“yaudah sih coba dulu aja” tegas Nanda.
“sini nomor ujian lu” pinta Topik setuju dengan Nanda.
Sementara aku hanya mampu membalas dengan kata “elah, ga bakal keterima pasti”. Sambil menyebutkan digit demi digit yang merupakan kombinasi angka kepada Topik, aku memberdirikan badan untuk menuju ke toilet yang berada tepat di sebelah kelas. ‘Jamban Pameget’ begitulah tertulis di tanda pengenal ruangan.

Belum sempat kakiku menapakkan satu langkah ke area ‘Jamban Pameget’ Topik sudah memanggilku kembali. “Cumi!” panggilnya. “elu dapet teknik fisika UGM” tambahnya sambil melihatku dengan muka takjub.
“tuh kan ngga keterima. Ape gue kata” sambil meneruskan langkah. Baru setengah badan ini menghilang masuk ke area ‘Jamban Pameget’, aku menghentikan langkah. Rasa percaya diri atas apa yang sudah terjadi, atas apa yang sudah ku lakukan, yang biasanya terprediksikan sering kali tepat mendadak seketika berubah menjadi rasa tidak percaya.
“serius?!” tanyaku tidak percaya.
“Seriuuss!” jawab Nanda kesal.
Bagaimana mungkin aku tidak percaya. Ujian tersebut aku kerjakan dengan apa adanya, sesuai pengetahuan yang aku dapat di SMA, tidak dicek kembali, bahkan kesalahan fatal yang secara tidak sengaja terjadi di lembar jawaban komputer. Seharusnnya pilihan yang tersisa adalah gagal mendapatkan kursi UGM.

“Aryo sama Mijar?”  tanyaku pada Nanda. Sebab merekalah yang menyebabkan aku terjebak di UTUL UGM. Entah kenapa perasaan khawatir menghantui hatiku ketika menanyakan pertanyaan itu. Sementara jawaban yang keluar dari Nanda membenarkan kekhawatiranku. Mereka gagal mendapatkan kursi UGM meskipun mereka telah memberikan effort lebih daripada aku yang hanya sekedar ikut menemani. Saat itu aku hanya bisa terdiam, kembali melangkahkan kakiku memasuki ‘Jamban Pameget’, menghilang meninggalkan suasana takjub sekaligus tidak enak di koridor lantai 2 depan kelas.


Memang meskipun kita bisa memprediksikan apa yang perlu kita lakukan untuk meraih sesuatu. Jika Allah sudah berkata jadilah maka jadilah. Memang hidup itu pilihan meskipun kita tidak pernah benar-benar memilih sebenarnya. Kun Fayakun.

...(bersambung)

Kamis, 25 September 2014

Ujian Masuk Perguruan Tinggi (part 1)

Kisah ini bermulai ketika kehidupan SMA hampir berakhir. Masa-masa dimana angkatan tertua sedang sibuk-sibuknya mencari halaman baru kemana kisah mereka akan berlanjut, atau boleh ku bilang sebagai kekhawatiran. Di negaraku ini, tidak masuk ke intitusi negeri merupakan sesuatu yang lebih tidak lebih prestatif dibandingkan dengan swasta. Sangat berkebalikan dengan negara tetangga yang sering kita baca di komik-komik. Dan aku salah satu orang tidak terikat dengan hal itu sebenarnya. Bahkan hingga saat kisah ini dimulai aku belum menentukan akan kuliah kemana. Orang tua ku merupakan tipe orang tua yang ‘terserah elu mau ngapain, tapi jangan nyusahin yang lain” begitulah. Alhasil aku pun tidak punya tambahan motivasi mau kemana. Karena selama ini aku cuma bergelut di dunia komputer dan kawan-kawannya, yah cuma ada Fasilkom UI di pikiranku. Meskipun begitu, setiap kali ada pertanyaan terlempat kepadaku, jawabannya selalu hanya “entah.. Elu mau kemana?”. Sebuah jawaban singkat yang menjadi senjata untuk menghindar dari ketidaktahuanku sendiri. Namun siapa sangka bahwa jawaban singkat itu lah yang akan memutar balik hidupku ini. Dari yang gelap menjadi berputar 360 derajat.

Beberapa hari kemudian pun posisiku sudah di lantai 3 SMAN 68 Jakarta, sebuah SMA yang seharusnya menjadi tempatku menimba ilmu selama 3 tahun. NIM? Cukup kok. Begini begini aku tergolong siswa dengan tingkat intelek terbilang diatas rata-rata KALAU memang aku ingin menunjukkan kemampuanku. Tapi sayang aku terlanjur terterima di SMAN 2 Bekasi dengan alasanku saat itu sekedar menemani teman baik dan dia gagal. Lantas aku pun seakan menggantikan posisinya disana. Dan kali ini alasan yang sama terulang kembali dan menyebabkanku berdiri menjender di lorong lantai 3 SMAN 68, menemani teman yang mengikuti UTUL UGM dengan menjadi peserta ujian juga, meskipun terpaksa. Sebab waktu hidup itu perlu dibagi untuk diri sendiri, keluarga, kosong sebagai jaga-jaga, dan juga untuk sahabat. Jangan sahabat hanya dikala butuh.

“lama juga ga kesini” ucapku sambil mengehela nafas. Sebuah ekspresi khasku disaat merasa hopeless atau annoying.
“kenapa cum?” tanya pria berbadan kurus nan tinggi di depanku. Tomo namanya. Lengkapnya Utomo Priyambodo. Temanku yang kebetulan juga mendapatkan tempat tes yang sama meskipun ruangan ujian kamu berbeda kelas.
“gapapa, cuma keinget aja kalau udah lama ga kesini.” balasku sambil melihat kerumunan orang-orang di lapangan.. Dulu aku sering beberapa kali kesini menjemput kakakku yang sekolah disini dan sekarang nasibku sepertinya dipertaruhkan disini. Di UTUL UGM, 1 hari dimana dimana menjadi hari penting banyak siswa tingkat akhir.

Teeeett.. Bunyi bel yang menandakan bahwa ujian siap untuk dimulai.
Aku pun dan Tomo berpisah menuju medan tempur masing-masing. Meskipun aku bilang seperti itu, bagiku ini tidak lebih dari mengisi waktu luang. Bukannya sombong, tapi aku benar-benar tanpa persiapan. Tidak belajar dan bahkan aku sudah menyiapkan rencana sendiri. Rencana untuk tidak serius diterima di UGM. Dengan harapan semoga diterima di Fasilkom UI tentunya, tempat dimana mungkin passionku berada.

Kalau di komik mungkin waktu ujian ini digambarkan dengan model perjuangan. Di kenyataan pun sama kalau kita melihatnya dengan seksama. Aura-aura keseriusan terpancar dari setiap pejuang di ruangan. Memperebutkan tiket masuk ke salah satu universitas ternama di nusantara dengan saingan tiga sampai belasan peserta lainnya hanya untuk mendapatkan jatah satu posisi. Ada juga mereka yang berperang dengan berkelompok. Mengandalkan bantuan temannya untuk memenangkan pertempuran padahal bisa saja justru peserta lain yang ia singkirkan adalah temannya, seperti satu di depanku saat ini. Bibirku hanya mampu naik satu centi untuk mengekspresikannya. Weak.
Lihat aku, tidak sampai 30 menit sudah tersisi semua jawabannya. Bukan berarti mengarang bebas seperti mata pelajaran pancasila, melainkan percaya dengan apa kemampuan sendiri. Secara bagian pertama ini adalah tes potensi akademik. Lanjut bagian kedua, tes kemampuan dasar. Suasana kembali memanas, bahkan semakin panas di ruangan ini. Dan sekali lagi aku selesai mengerjakannya dalam hitungan yang begitu cepat. Semua terisi, tidak satupun terlewat. Saat itu aku sudah tidak peduli salah atau benar. Apa yang otakku pikirkan benar maka disitu aku gelapkan lingkaran. Atau bisa disebut juga dengan insting mungkin ya?

Bel pun kembali berbunyi tanda istirahat. 10 menit waktu yang diberikan kepada kami. Cukup untuk melihat tanda stres pada beberapa peserta di lorong koridor sementara aku menyantap bekal dari mamaku. Memang hanya roti biasa. Beli di toko pula. Setidaknya perasaan sayangku terhadap ekspektasi mamaku lah yang membuatku mau menggunakan otakku mengerjakan ujian walaupun tidak aku koreksi kembali setelahnya.

Ujian terakhir adalah tes pengetahuan alam. Di sinilah sebuah kebodohan muncul. Kenal sistem absensi menggunakan cap jari? Tentu yang pernah mendaftar beberapa PTN pasti pernah mengalaminya. Di ujian ini ternyata absensi dilakukan dengan cap jari juga. Tentunya dengan tinta bukan darah. Dan dari absensi ketiga ujian ini, absensi yang ketiga merupakan absensi paling membosankan karena diulangi terus-menerus. Ketika sedang mengelap ibu jari yang tertutup tinta dengan sebuah kain lap yang dipakai satu kelas dan diulangi tiga kali (yeeks) tanpa sengaja kain tersebut lepas dari genggaman tanganku dan jatuh persis di lembar jawaban.
“eh” kaget panitia yang mengedarkan absensi sementara aku hanya membalas ringan “ah”. Dua ekspresi yang sangat kontras. Panitia yang kaget dengan sebuah kesalahan yang fatal sementara yang satu lagi seakan begitu polosnya berekspresi. Fatal, kesalahan yang paling parah pernah dilakukan peserta ujian selain tidak mengisi informasi diri. Lembar jawaban pun kotor bukan main. Hitam dimana-mana. Bahkan sampai identitas diri saja tertutup rata oleh tinta. Hingga seakan lingkaran gelap sebelah terhubung dengan yang lain. Sementara jam dinding di ruangan menunjukkan waktu 15 menit lagi. Seandainya sesi kali ini tidak ada perasaan congkak munkin aku sudah keluar ruangan seperti sesi lainnya dan tidak terjadi kesalahan seperti ini. Panitia pengedar absen pun hanya bisa terdiam berdiri karena waktu tidak cukup untuk mencari LJK baru dan informasi terakhir adalah tidak ada LJK berlebih. Jalan buntu meskipun sejak semula UGM bukan pilihan pertama.

...(bersambung)

Entah Kenapa

Seperti malam biasanya, empat digit angka di pojok kanan bawah notebookku sudah menunjukkan bahwa tengah malam pun sudah terlewati. Menunggu terbitnya fajar dengan segudang hal yang bisa dilakukan bersama notebook. Menunggu waktu untuk sel-sel tubuh ini merasa perlu beregenerasi dan membuatku merasakan yang namanya ngantuk. Namun tidak seperti biasanya dimana dengan hampanya ruang berfikir maka tangan ini memainkan iramanya, entah bermain Ragnarok 2 bersama teman-teman Nocturno, bermain Dota 2 bersama Chromus, membaca berita-berita yang belum dibaca seharian ini, ataupun sekedar menelusuri sosial network mencari fakta ada apa dengan hari ini. Malam ini ada sesuatu yang mengganjal di akal non-fisikku. Membuat akal fisik memikirkan hal-hal yang menurutku tidak perlu dipikirkan dan cukup percaya dengan diri sendiri dan janjiNya saja.

Meskipun kelihatannya aku biasa saja. Terlihat tidak ada bedanya dengan semester sebelumnya. Percayalah bahwa aku ini butuh bantuan. Perlu sebuah motivasi. Bukan motivasi ISIS (Ingat Skripsi Ingat Sidang) karena memasuki semester SEMBILANku. Melainkan motivasi untuk menjaga agar pilar-pilar karakterku yang selama ini begitu kokok agar tetap kokok. Keraguan mulai banyak menyerang celah-celah yang terbentuk akibat proses berjalannya waktu (lebih tepatnya waktu berjalannya proses). Sekarang sudah september dua ribu EMPAT BELAS dan sebentar lagi sudah LIMA BELAS sementara aku merasa tidak ada impact apapun yang dilahirkan dari keberadaan di sini. Apakah aku benar-benar tidak mampu merubah dunia menjadi tempat tanpa kesemuan? Walau hanya semeter pun?

Beberapa minggu yang lalu mungkin aku sudah tidak seperti ini lagi walau sebelumnya juga seperti ini. Tapi mengingat percakapanku dengan Ipul tentang alasan kenapa aku tidak pernah mau ikut yang namanya PE-KA-EM membuatku kembali teringat hal yang tidak perlu dipikarkan ini. (Ah, salahmu nih Pul -..-”)
Membuatku memikirkan kenapa aku masih saja di posisi ini, masih ada di sekre, masih di Sleman, masih belum bisa memenuhi janjiku sampai saat ini. Bahkan hingga detik ini pikiran ini masih membebaniku. Aku masih belum menjadi orang berhati besar seperti di film 3 Idiot. :’)
Yah tidak perlu dipikirkan memang (meskipun masih terpikirkan). Cukup tetap berusaha memberikan yang terbaik dan percaya dengan janjiNya. Semoga pikiran ini segera hilang.

-------------------------------------------------------------------------------------
Kamar nomor tiga
di tengah bertambahnya kemurungan dunia

Rabu, 24 September 2014

Motivasi Baru

Biasanya sih setiap awal tahun.
Biasanya sih pindah ke tetangga.
Biasanya sih ...
ah ga ada biasa-biasa lagi.
Saatnya mencoba anti-mainstream. Jadi yang biasanya ganti blog setahun sekali untuk menyamarkan sekarang ganti karena ada tujuan khusus.

Bosan cari masalah. Takut ada yang menggugat. Jadi mari kita migrasi ke halaman baru.

"Kalau denger ceritanya mas arman, keknya hidupku kerasa biasa aja. Flat gitu" say someone dulu. Oke mari kita buktikan. Apakah benar hidupku lebih berwarna darimu jak. Everybody have their own story. Jadi silahkan bandingkan di blog baru. Ditulis untuk dibaca semua orang.

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Daripada terus-terusan uring-uringan karena sepertinya tidak ada pengaruh positif apa-apa yang ku hasilkan selama kuliah ini dan aku lebih suka menginspirasi daripada menasehati. Karena menasehati mereka yang hidupnya sudah terikat dengan hal semu bagiku adalah buang-buang tenaga. Jadi semoga kisah-kisah pilihan ini menginspirasi kalian agar selalu menjadikan hidup kalian berharga, penuh warna, penuh kebaikan. Karena hidup cuma sekali ini saja. Jadi lukislah pelangi dimana kalian melangkah.
Semoga menginspirasi bagaimana menjadi manusia yang ingat alam yang harus kita jaga dan etika dalam hidup bersama.

Spesial thanks untuk Laskar 38 yang telah menemaniku bertahan di jogja hingga niat pergiku hilang di tahun kedua, kepada keluarga BEM KMFT UGM yang mengajariku etika seorang manusia, Soedirman yang membuatku akhirnya merasakan keberhasilan memandu seperti yang ku lihat dari Mas Adit sang pemandu Laskar 38, dan Djaki si sabar, Amal si cupu, Dimce si cacat, Mas Gilang yang tua, Atul yang payah, Rina si norak yang membuatku selalu senang menjadi manusia koplak.

sekarang ku coba sedikit merangkai huruf di halaman yang baru, dari biangmasalah menjadi cukup bermasalah.
Eh salah, cukuptersenyum yang benar.
--------------------------------------------------------------------------
kamis, 25 september 2014
Setelah kebingungan atas apa yang bisa aku lakukan
Sedikit usaha untuk menggapai mimpi