Dimana ya? Gue udah di depannya ini
Isi sebuah sms yang ku layangkan kepada temanku. Sambil menunggu reply aku kembali memandang bagaimana hujam memburamkan pandangan akan dunia ini. Sibuk dengan pikiran sendiri, sebuah suara yang ku kenal memanggilku masuk ke dalam kedai kopi yang berada di belakangku.
“Man!” panggil Arya yang telah membaca pesanku.
Ku balikkan badanku dan ku langkahkan kakiku memasuki kedai sementara tanganku berusaha meletakkan tablet ke dalam tas.
-- di dalam kedai --
“saya pesan millenia snowball satu” pesanku kepada mbak waitress yang sedang kerepotan menuliskan pesanan kami. Arya, Ivan, Dani, Alifah memesan expresso dengan citra rasa indonesia yang menjadi menu pada halaman pertama. Sementara gue yang baru aja divonis nggak bolah minum kopi ini harus mencari menu yang sekiranya tidak terlalu ke-kopi-an meskipun ini kedai kopi. Aaaah merusak suasana dengan membuatku memesan sesuatu yang jelas jauh dari kopi tersebut.
“Pake rum nggak apa apa mas?” tanya mbaknya kembali kepadaku. Sementara Ivan bertanya agar mbak waitress kembali mengulang pertanyaannya. Aku hanya terkejut dengan pesananku barusan. Aku buka kembali buku menu dan ternyata memang tertulis ‘rum’ di keterangannya. Oh maaan... Ada lagi masalahnya.
“Nggak jadi mbak, diganti dengan frappucino aja deh” balasku padanya.
“Pake choco chip ya” tambahku.
“aah maan.. Seandainya tadi mbaknya nggak bilang rum kan gue tetep pesen snowball, cih” ujarku menggerutu.
Sementara anak-anak lain hanya bertanya yang setuju dengan gerutuanku itu karena memang kita semua penasaran dengan menu yang terlihat fantastis tersebut.
Tawa memenuhi zona kami.
Usai memesan, satu persatu anak mulai meninggalkan sofa untuk menunaikan shalat maghrib. Sementara aku dan Dani menunggu di tempat sambil mengobrol asik seperti biasanya. Kami memang akrab.
“eh eh, cerita dong soal teknik. Aku cuma dapet isunya doang” tanyanya padaku. Dengan singkat dan padat aku menjelaskan padanya tentang pertanyaannya. Tentang kondisi kampus yang saat ini sedang tidak jelas. Dimana logika bukan lagi hasil kognitif dari otak. Terus darimana? Sepertinya dari dengkul.
Hanya untuk beberapa oknum.
Tepat setelah aku menjelaskan anak-anak kembali dan saat itu juga pesanan kami datang. Sambil menikmati pesanan kami masing-masing, obrolan asikpun kembali terlayang menghabiskan waktu menunggu teman-teman yang lain dan dilanjutkan dengan makan malam di D’Co*t.
-- intermezzo yang udah telat. Formatnya Ask and Question--
A: Sebentar. Sebenarnya ini acara apa sih?
Q: Ini acara kumpul kelompok KKN. Kebetulan Arya mendapatkan voucher Excelso (
A: Berarti ini mau cerita tentang kumpul KKN kalian?
Q: Sebenarnya tujuannya bukan sih. Ada hal lain yang mau aku tulis nanti.
A: Jadi belum pembahasan? Bakal berapa halaman ini?
Q: Ga panjang juga kok. Ini cerita latar belakang dulu. Kan biasanya di laporan itu kan latar belakang selalu lebih panjang dari pembahasan, apalagi kesimpulan. (Hanya di teknik fisika mungkin)
A: Emang mau cerita tentang apa sih?
Q: Yuk makanya kita lanjut lagi ceritanya.
A: Ahh lama nih..
Q: Dipercepat deh settingnya.
-- Kembali ke cerita. Kondisi sudah keluar dari restauran. Perut kenyang (bohong banget).--
“Pada langsung pulang nih?” Tanya Dani pada semuanya.
“Aku, Ivan, Ilham, sama Arman mau ke Amazon dulu main hokey” jawab arya.
That’s right. Kita cowok-cowok gahoel mah males banget masuk mall. Jadi sekalinya masuk ke dalam mall seperti ini mending sekalian habisin aja apa yang mau dilakukan dan akhirnya kita memutuskan untuk ke Amazon. Bukan Amazon yang hutan di Brazil, Amazon yang merupakan tempat bermain. Kami mau mengadakan turnamen Hokey berempat. Tidak membuang waktu karena memang sudah malam, kami langsung menuju ke lantai atas, memasuki Amazon (wiiih..), mendatangi mbak-mbak penjual koin (
Ternyata ada keluarga yang sedang bermain, lantas kami main lempar bola basket dulu sebentar. Setelah memastikan meja kosong, kami langsung beranjak kesana.
Pertandingan terbagi menjadi 3.
Arya vs Ivan.
Aku vs Ilham.
Juara dari masing-masing pertandingan akan berhadapan di pertandingan selanjutnya.
Widiiih... Sok iye banget dah padahal cuma main hokey meja buat anak-anak begini. Hahaha.
Pertandingan pertama berlangsung sepihak dengan kemenangan 3-0 untuk Arya dan selanjutnya 6-1 untuk gue tentunya. Dari sini belum kerasa apa-apa. Cuma perasaan bangga karena udah biasa main ini sejak kecil bersama Papa. Dulu setiap kali Papa mengajak makan di mall pasti kami berdua selalu menyempatkan diri untuk bermain hokey meja.
Pertandingan kedua berjalan dengan sengit.
Arya jago sekali memainkan pantulan.
Menit pertama okelah
Menit selanjutnya ya boleh juga.
Menit pertengahan.... Aduh duh ada yang beda. Bener dah.
Punggungku.. Pungunggu pegel euy. Encok. Kalah ya kalah. Pertandingan berakhir dengan skor 5-3 untuk Arya. Untuk kasus punggung ini bukan sesuatu yang dibuat-buat sebagai alasan tapinya ya. Ini benar dan ini yang membuatku berfikir keras akan sebuah kenangan lama.
--akhirnyaa.. Pembahasan juga--
Kita sering sekali ketika kecil mungkin mengajak ayah kita untuk bermain bersama.
Permainan hokey hari ini membuatku merenung.
“Papa dulu nahan sakit punggung nggak ya?” tanyaku dalam hati pada diriku.
Permainan yang 2 game belum selesai saja ini sudah mampu membuat punggungku (dan temanku) pegel coy. Secara mejanya rendah karena memang didesign untuk anak kecil. Untuk kami yang masih umur belum punya anak aja sudah kerasa berat, apalagi untuk ayah kita. Belum lagi umurnya.
“Papa pasti nahan sakitnya, dulu pernah sampai 5 game kayaknya” simpulku dalam hati juga.
Memang ya orang tua itu selalu menjadi yang terhebat. Mampu memaksakan dirinya hanya untuk membuat kita senang ataupun sehat. Setelah ini rasanya aku pingin sekedar mengirimkan pesan “paa..” kepada ayahku melalui mesenger setelah semakin mengetahui seberapa besar effortnya untuk membuatku tersenyum.
Paa.. Anakmu ini akan melakukan hal yang sama untuk anakku nanti. Tidak hanya untuk mereka, tapi juga untuk dunia. Dunia yang telah kau tunjukkan padaku selama ini bahwa selalu ada kebahagian setiap detiknya.
:-)
--sek sek..--
Q: Ini brarti isinya tentang ayah ya?
A: Iya lah.
Q: Kok dipublish sekarang? Sekarang kan hari Ibu, bukan hari Ayah.
A: Ehhh.. Seriusan?
Q: *lempar tablet
------------------------------------------------------------
Kamar No.3 di balik dinginnya hujan malam hari
Yogyakarta.
------------------------------------------------------------







0 komentar:
Posting Komentar