Minggu, 12 Oktober 2014

Aku Tidak Menginginkan Kasih Tanpa Sayang

Perempatan itu bukan lah perempatan terhijau di Bekasi. Meskipun tidak benar-benar menyerupai perempatan, tapi spot tersebut  merupakan salah satu yang terpadat di Bekasi. Bahkan menuju perempatan paling padat di kota itu. Panas, debu, padat oleh kendaaraan yang menunggu warna merah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau membuat perempatan tersebut menjadi lokasi yang dihindari kebanyakan orang. Namun disitulah tempat laki-laki tersebut mencari nafkah. Pria sudah lagi tidak tergolong muda, terlihat dari rambutnya yang sudah penuh warna putih dan kulit wajahnya tidak lagi kencang. Meski begitu jiwanya masih begitu muda, terlihat dari aura produktif yang nampak pada umurnya yang bukan lagi umur produktif. Pria berjiwa tersebut merupakan penjual koran perempatan. Bersama dengan anak cucunya, mereka menghabiskan tumpukan kertas abu-abu yang dibawa. Entah berapa lama mereka mewarnai perempatan tersebut, terkadang aku masih mendapati mereka berjualan pada malam hari.

Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita menjumpai mereka yang masuk umur tidak produktif namun masih dengan tegar mencari nafkah untuk sesuap nasi bagi keluarga mereka. Namun lelaki ini membuatku selalu merasa malu dengan hidupku saat itu, begitu pula anak cucunya. Setiap kali satu korannya terbeli, tidak pernah ia mengucapkan puji syukur kepada tuhannya. “Alhamdulillah” ucapan ringan namun berbobot yang ia ucapkan itu selalu membuatku kagum. Begitu pula keluargaku.

Bahkan suatu hari, sepulang aku sekolah, di sore yang panas itu aku kembali mendapati mereka berjualan seperti biasanya.
“pak, korannya (merek dirahasiakan) ada pak?” tanyaku dengan berupaya membeli satu dagangannya. Aku menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru dan mengatakan “kembaliannya ambil aja pak” padanya. Namun aku tidak menyangka ternyata ia menolaknya dan tetap mencarikan kembalian dan memberikannya kembali padaku. Dan seperti biasa ia menanggapi setiap orang dengan tersenyum. Baik pembeli maupun orang yang ia tawarkan walaupun menolaknya.
Lampu lalu lintas sudah berganti hijau dan motor dibelakangku sudah membunyikan klakson yang menandakan ia memintaku minggir. Lantas aku pun menaikkan gas motorku dan meninggalkan perempatan tersebut dengan pertanyaan pertanyaan di kepalaku.

Esoknya aku kembali ke perempatan tersebut. Hari ini merupakan hari libur dan aku masih mendapati mereka rajin dan ulet dalam mencari nafkah. Kali ini aku menarget cucunya. Hal yang sama aku ulang kembali ke cucunya dan ia pun meresponnya dengan hal yang sama. Sungguh heran aku saat itu. Biasanya kalau ada loper koran yang aku perlakukan seperti itu pasti direspon dengan kata terima kasih dan ia menerima selembar biru tersebut.
Aku pun bertanya pada anak kecil tersebut kenapa ia dan keluarganya menolak pemberianku dan aku terkejut dengan jawabannya.
“karena yang kami jual koran kak, untuk secercah uang untuk membeli makan. Bukan rasa kasihan dari orang lain. Alhamdulillah kami selalu cukup untuk memenuhi hidup sehari hanya dengan seperti ini.” jawabnya sambil tersenyum tulus.
“Kakek selalu mengajarkan kami untuk hidup jujur dan penuh kasih sayang, bukan tanpa sayang dan hanya tersisa kasih saja. Nanti hanya kasihan yang didapat.” tambahnya.
Membuatku merasa malu dengan diriku. Mereka telah membuang rasa opportunis berlebihan dari diri mereka. Tidak membiarkan sedikitpun diri mereka terjual oleh rasa kasihan atau apa yang bukan hasil usaha mereka.
Terharu dengan ucapan anak kecil tersebut aku pun membeli dagangan mereka sejumlah uang kertas tersebut dan membawanya ke sekolah (siapapun yang mau ambil ya silahkan ambil).

Jika dibandingkan dengan honor-honor yang pernah aku dapatkan selama sekolah ini rasanya nilainya total berbeda. Honor yang didapat bukan murni hasil kemampuanku. Hanya sekedar upah atas waktu yang hilang tanpa nilai untuk kemampuanku. Bahkan hingga saat ini aku melanjutkan kuliah di perguruan tinggi tidak sedikit aku menjumpai kondisi dimana honor-honor didapat bukan karena hasil kemampuan tapi melainkan sebagai pengganti waktu yang hilang ataupun sekedar kasihan. Kita sebut saja sebagai contoh adalah pekan tiga huruf. Dimana tidak sedikit mahasiswa yang menjual kreatifitas mereka dengan melebih-lebihkan anggaran diatas yang seharusnya hanya karena melihat ada kesempatan. Atau saat dimana diri ini ditawar dengan keuntungan yang belum jelas asalnya. Setiap kali kondisi itu kembali menghampiri waktu-waktuku, aku selalu teringat dengan mereka. Perasaan bangga atas dinilainya usaha diri ini secara murni. 

Setiap kali kembali ke rumah, aku selalu menyempatkan diri mengendarai motor untuk sekedar melewati perempatan tersebut. Berharap kembali menemukan sosok mereka yang saat ini hampir tidak pernah ku temui entah apakah mereka memang pindah spot atau Allah memberikan mereka hasil yang indah atas hati mereka yang begitu besar.

Dari mereka lah aku belajar untuk mendapatkan penghargaan atas apa yang sudah aku lakukan, bukan merupakan hibah hanya dari hasil sekedar hadir dan rasa kasihan. Tidak membiarkan materi menggerogoti pilar harga diri untuk kebaikan ini rapuh. Sebab sifat opportunis berlebihan itu lah yang justru membuat manusia kehilangan nilainya sebagai makhluk berakal.

Sama halnya seperti kasih sayang Allah. KasihNya mungkin memang untuk seluruh manusia. Namun sayangNya itu lah yang terdapat ridho didalamnya, hanya milik mereka yang beriman. 

Semoga saat ini mereka sekeluarga tetap hidup dalam hati yang bernilai.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar