Kisah ini bermulai ketika kehidupan SMA hampir berakhir. Masa-masa dimana angkatan tertua sedang sibuk-sibuknya mencari halaman baru kemana kisah mereka akan berlanjut, atau boleh ku bilang sebagai kekhawatiran. Di negaraku ini, tidak masuk ke intitusi negeri merupakan sesuatu yang lebih tidak lebih prestatif dibandingkan dengan swasta. Sangat berkebalikan dengan negara tetangga yang sering kita baca di komik-komik. Dan aku salah satu orang tidak terikat dengan hal itu sebenarnya. Bahkan hingga saat kisah ini dimulai aku belum menentukan akan kuliah kemana. Orang tua ku merupakan tipe orang tua yang ‘terserah elu mau ngapain, tapi jangan nyusahin yang lain” begitulah. Alhasil aku pun tidak punya tambahan motivasi mau kemana. Karena selama ini aku cuma bergelut di dunia komputer dan kawan-kawannya, yah cuma ada Fasilkom UI di pikiranku. Meskipun begitu, setiap kali ada pertanyaan terlempat kepadaku, jawabannya selalu hanya “entah.. Elu mau kemana?”. Sebuah jawaban singkat yang menjadi senjata untuk menghindar dari ketidaktahuanku sendiri. Namun siapa sangka bahwa jawaban singkat itu lah yang akan memutar balik hidupku ini. Dari yang gelap menjadi berputar 360 derajat.
Beberapa hari kemudian pun posisiku sudah di lantai 3 SMAN 68 Jakarta, sebuah SMA yang seharusnya menjadi tempatku menimba ilmu selama 3 tahun. NIM? Cukup kok. Begini begini aku tergolong siswa dengan tingkat intelek terbilang diatas rata-rata KALAU memang aku ingin menunjukkan kemampuanku. Tapi sayang aku terlanjur terterima di SMAN 2 Bekasi dengan alasanku saat itu sekedar menemani teman baik dan dia gagal. Lantas aku pun seakan menggantikan posisinya disana. Dan kali ini alasan yang sama terulang kembali dan menyebabkanku berdiri menjender di lorong lantai 3 SMAN 68, menemani teman yang mengikuti UTUL UGM dengan menjadi peserta ujian juga, meskipun terpaksa. Sebab waktu hidup itu perlu dibagi untuk diri sendiri, keluarga, kosong sebagai jaga-jaga, dan juga untuk sahabat. Jangan sahabat hanya dikala butuh.
“lama juga ga kesini” ucapku sambil mengehela nafas. Sebuah ekspresi khasku disaat merasa hopeless atau annoying.
“kenapa cum?” tanya pria berbadan kurus nan tinggi di depanku. Tomo namanya. Lengkapnya Utomo Priyambodo. Temanku yang kebetulan juga mendapatkan tempat tes yang sama meskipun ruangan ujian kamu berbeda kelas.
“gapapa, cuma keinget aja kalau udah lama ga kesini.” balasku sambil melihat kerumunan orang-orang di lapangan.. Dulu aku sering beberapa kali kesini menjemput kakakku yang sekolah disini dan sekarang nasibku sepertinya dipertaruhkan disini. Di UTUL UGM, 1 hari dimana dimana menjadi hari penting banyak siswa tingkat akhir.
Teeeett.. Bunyi bel yang menandakan bahwa ujian siap untuk dimulai.
Aku pun dan Tomo berpisah menuju medan tempur masing-masing. Meskipun aku bilang seperti itu, bagiku ini tidak lebih dari mengisi waktu luang. Bukannya sombong, tapi aku benar-benar tanpa persiapan. Tidak belajar dan bahkan aku sudah menyiapkan rencana sendiri. Rencana untuk tidak serius diterima di UGM. Dengan harapan semoga diterima di Fasilkom UI tentunya, tempat dimana mungkin passionku berada.
Kalau di komik mungkin waktu ujian ini digambarkan dengan model perjuangan. Di kenyataan pun sama kalau kita melihatnya dengan seksama. Aura-aura keseriusan terpancar dari setiap pejuang di ruangan. Memperebutkan tiket masuk ke salah satu universitas ternama di nusantara dengan saingan tiga sampai belasan peserta lainnya hanya untuk mendapatkan jatah satu posisi. Ada juga mereka yang berperang dengan berkelompok. Mengandalkan bantuan temannya untuk memenangkan pertempuran padahal bisa saja justru peserta lain yang ia singkirkan adalah temannya, seperti satu di depanku saat ini. Bibirku hanya mampu naik satu centi untuk mengekspresikannya. Weak.
Lihat aku, tidak sampai 30 menit sudah tersisi semua jawabannya. Bukan berarti mengarang bebas seperti mata pelajaran pancasila, melainkan percaya dengan apa kemampuan sendiri. Secara bagian pertama ini adalah tes potensi akademik. Lanjut bagian kedua, tes kemampuan dasar. Suasana kembali memanas, bahkan semakin panas di ruangan ini. Dan sekali lagi aku selesai mengerjakannya dalam hitungan yang begitu cepat. Semua terisi, tidak satupun terlewat. Saat itu aku sudah tidak peduli salah atau benar. Apa yang otakku pikirkan benar maka disitu aku gelapkan lingkaran. Atau bisa disebut juga dengan insting mungkin ya?
Bel pun kembali berbunyi tanda istirahat. 10 menit waktu yang diberikan kepada kami. Cukup untuk melihat tanda stres pada beberapa peserta di lorong koridor sementara aku menyantap bekal dari mamaku. Memang hanya roti biasa. Beli di toko pula. Setidaknya perasaan sayangku terhadap ekspektasi mamaku lah yang membuatku mau menggunakan otakku mengerjakan ujian walaupun tidak aku koreksi kembali setelahnya.
Ujian terakhir adalah tes pengetahuan alam. Di sinilah sebuah kebodohan muncul. Kenal sistem absensi menggunakan cap jari? Tentu yang pernah mendaftar beberapa PTN pasti pernah mengalaminya. Di ujian ini ternyata absensi dilakukan dengan cap jari juga. Tentunya dengan tinta bukan darah. Dan dari absensi ketiga ujian ini, absensi yang ketiga merupakan absensi paling membosankan karena diulangi terus-menerus. Ketika sedang mengelap ibu jari yang tertutup tinta dengan sebuah kain lap yang dipakai satu kelas dan diulangi tiga kali (yeeks) tanpa sengaja kain tersebut lepas dari genggaman tanganku dan jatuh persis di lembar jawaban.
“eh” kaget panitia yang mengedarkan absensi sementara aku hanya membalas ringan “ah”. Dua ekspresi yang sangat kontras. Panitia yang kaget dengan sebuah kesalahan yang fatal sementara yang satu lagi seakan begitu polosnya berekspresi. Fatal, kesalahan yang paling parah pernah dilakukan peserta ujian selain tidak mengisi informasi diri. Lembar jawaban pun kotor bukan main. Hitam dimana-mana. Bahkan sampai identitas diri saja tertutup rata oleh tinta. Hingga seakan lingkaran gelap sebelah terhubung dengan yang lain. Sementara jam dinding di ruangan menunjukkan waktu 15 menit lagi. Seandainya sesi kali ini tidak ada perasaan congkak munkin aku sudah keluar ruangan seperti sesi lainnya dan tidak terjadi kesalahan seperti ini. Panitia pengedar absen pun hanya bisa terdiam berdiri karena waktu tidak cukup untuk mencari LJK baru dan informasi terakhir adalah tidak ada LJK berlebih. Jalan buntu meskipun sejak semula UGM bukan pilihan pertama.
...(bersambung)







0 komentar:
Posting Komentar